Google search

Sunday, January 8, 2012

HUTAN KOTA PADA TANAH HAK DAN PERMASALAHANNYA

Gagan H Wijaya 
            Secara alami Indonesia ditumbuhi berbagai jenis pepohonan sejak zaman dahulu. Namun, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin besar tidak dapat dipungkiri lahan yang subur untuk pepohonan pun semakin menyempit. Daerah yang dulunya dikenal dengan desa sekarang sudah berubah menjadi kota kecil dan kota kecil berubah menjadi kota besar. Kawasan yang dulu hijau kini berubah menjadi hunian dan perkantoran. Begitu banyak pepohonan yang hilang sehingga yang tampak hanya kegersangan. Paru-paru kota pun hilang (Kurnia 2011).

Thursday, December 15, 2011

PERENCANAAN DESAIN ARBORETUM FAHUTAN IPB

Oleh: Gagan Hangga Wijaya
Kawasan arboretum Fahutan memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan sebagai sarana hiburan dan pendidikan. Letak arboretum yang berada di depan Kantor Dekanat Fahutan dan di tepi jalan akan memberikan akses yang mudah bagi pengunjung. Mahasiswa Fahutan atau TPB yang melewati jalan di depan arboretum merupakan pengunjung potensial, sedangkan staf Dekanat juga dapat menjadi pengunjung yang potensial pula. Perbaikan sarana dan prasarana serta kondisi vegetasi arboretum fahutan harus segera dilakukan agar arboretum Fahutan bukan hanya koleksi pohon saja tetapi merupakan tempat bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi dan sebagai sarana melepas lelah serta menghilangkan stress. 

Wednesday, December 14, 2011

HUTAN KOTA SEBAGAI CADANGAN KARBON PERKOTAAN

Oleh Gagan Hangga Wijaya
            Di permukaan bumi ini, kurang lebih terdapat 90 % biomassa yang terdapat dalam hutan berbentuk pokok kayu, dahan, daun, akar dan sampah hutan (serasah), hewan, dan jasad renik (Arief 2005). Biomassa ini merupakan tempat penyimpanan karbon dan disebut rosot karbon (carbon sink). Namun, pencemaran lingkungan, pembakaran hutan dan penghancuran lahan-lahan hutan yang luas diberbagai benua di bumi, telah mengganggu proses tersebut. Akibat dari itu, karbon yang tersimpan dalam biomassa hutan terlepas ke dalam atmosfer dan kemampuan bumi untuk menyerap CO2 dari udara melalui fotosintesis hutan berkurang. Selain akibat tersebut, intensitas Efek Rumah Kaca (ERK) akan ikut naik dan meyebabkan naiknya suhu permukaan bumi. Hal inilah yang memicu tuduhan bahwa kerusakan hutan tropik telah menyebabkan pemanasan global (Soemarwoto 2001).

Wednesday, November 30, 2011

RUSA TOTOL ISTANA BOGOR

Gagan H Wijaya
Istana Bogor terletak di tengah Kota Bogor, pada posisi antara 160° 43′ BT, 106° 51′ LS sampai dengan 6° 40′ LS. Istana Bogor berada pada ketinggian 260 m dari permukaan laut, dengan luas areal 28 ha, sisanya berupa bangunan istana, jalan, dan taman berpagar. Curah hujan adalah 512,5 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 13 hari diperoleh dari hasil komunikasi Badan Meteorologi dan Geofisika. Di halaman Istana Bogor terdapat berbagai jenis pohon dan rumput yang ditanam sejak zaman Belanda dan berfungsi sebagai sarana keindahan. Pohon tersebut juga berfungsi sebagai naungan bagi rusa. Jenis pohon yang mendominasi Istana Bogor, adalah beringin (Ficus benjamina), mahagoni (Swietenia mahagoni), dan cengkeh (Syzygium aromaticum). Sebelumnya Istana Bogor dilengkapi dengan sebuah kebun besar, yang dikenal sebagai Kebun Raya Bogor namun sesuai dengan kebutuhan akan pusat pengembangan ilmu pengetahuan akan tanaman tropis, Kebun Raya Bogor dilepas dari naungan istana pada tahun 1817 (Sekretariat Presiden RI. 2004).

Wednesday, November 9, 2011

ETNOBOTANI

Gagan Wijaya
Besarnya peranan keanekaragaman hayati tumbuhan bagi kelangsungan hidup manusia dan kemanusiaan, serta bagi pembangunan memberikan alasan kuat mengapa penelitian etnobotani dan etnobiologi dilakukan dalam kaitannya dengan konservasi (Yulia 2009). Perubahan tata kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan yang semakin pesat dewasa ini tentu akan berdampak pada budaya, pola hidup, dan kelestarian sumberdaya alam hayati. (Rahayu et al. 2008). Adanya modernisasi budaya dapat menyebabkan hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat (Bodeker 2000).

Monday, April 11, 2011

ASPEK TEKNIS PENANGKARAN TOKEK UNTUK INDUSTRI

Oleh: Gagan H Wijaya
            Aspek teknis merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penangkaran. Suatu kegiatan penangkaran dapat berjalan dengan baik jika didukung dengan aspek teknis yang terstruktur dan terrencana dengan baik. Kegiatan penangkaran dapat saja gagal jika aspek teknisnya kurang tepat. Kegiatan seperti pembuatan kandang, penyediaan pakan, perawatan dan penanganan kesehatan juga merupakan aspek teknis di lapangan.

Wednesday, March 23, 2011

KEBAKARAN HUTAN

Oleh : Gagan Hangga Wijaya
Kebakaran hutan didefinisikan sebagai suatu proses pembakaran yang menyebar secara bebas dengan mengkonsumsi bahan bakar alam hutan misalnya serasah, humus, rumput, ranting-ranting, tiang, gulma, semak, dedaunan, serta pohon-pohon segar (Ismail, 2005). Proses kebakaran meliputi beberapa tahapan pembakaran, yaitu tahapan prapenyalaan, penyalaan, pembakaran, pemijaran dan fase terakhir (Ismail, 2005). Pada tahapan pra-penyalaan, bahan bakar mulai terpanaskan, terhidrasi (kering) dan mulai terjadi proses pyrolisasi yaitu terjadinya pelepasan uap air, karbondioksida, dan gas-gas yang mudah terbakar termasuk methana, methanol, dan hidrogen (Ismail, 2005). Oleh karena itu, banyaknya kadar air dalam suatu bahan bakar akan mempengaruhi kesempurnaan pembakaran itu sendiri.