Google search

Friday, January 13, 2012

ASPEK PENGELOLAAN DI PUSAT PENYELAMATAN SATWA CIKANANGA


Gagan Hangga Wijaya
  Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) berdiri pada tanggal 27 Agustus 2001 dan mulai menerima satwa pada bulan September 2001. PPSC bertujuan untuk membantu pemerintah dalam penanganan permasalahan satwa liar dilindungi serta mendorong upaya terciptanya penegakkan hukum terhadap penyelamatan satwa liar dan habitatnya melalui kegiatan-kegiatan yang meliputi : penyediaan sarana dan fasilitas penampungan satwa liar, mendorong proses penegakkan hukum, pengelolaan dan pemeliharaan satwa, peningkatan kapasitas SDM, sosialisasi program, pendidikan & penyadartahuan dan pelibatan masyarakat sekitar. 

Monday, January 9, 2012

TAMAN ATAP (ROOF GARDEN) UNTUK MENGHIJAUKAN KOTA

Gagan Hangga Wijaya
            Kawasan perkotaan identik dengan bangunan dan lantai yang tertutup dari vegetasi. Kawasan perkotaan biasanya memiliki permukaan tanah yang tertutup oleh bangunan, jalan, trotoar, lantai beton dan lain-lain. Hal tersebut membuat kota menjadi terlihat gersang dan suntuk, walaupun sebagian orang menyukai kondisi yang teratur dan rapi yang terbentuk dari beton atau aspal. Namun vegetasi merupakan aspek yang sangat penting bagi keberlangsungan bumi ini. Bumi akan terasa hidup jika terdapat vegetasi yang tumbuh di dalamnya. Vegetasi berfungsi untuk menyegarkan udara, menyuburkan tanah, mengatur system tata air dan banyak fungsi lainnya.

PRESERVASI GENETIK SUMBERDAYA ALAM HAYATI (DENGAN TEKNIK KRIOPRESERVASI) SEBAGAI SALAH SATU USAHA KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM HAYATI

Gagan H Wijaya
Ayu W Marharina
Pengertian Keanekaragaman Hayati
Definisi keanekaragaman hayati adalah: keanekaragaman makhluk hidup dan hal-hal yang berhubungan dengan ekologinya, dimana makhluk hidup tersebut terdapat. Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkatan yaitu:  

PERENCANAAN HUTAN KOTA

Gagan H Wijaya
            Hutan kota di satu daerah merupakan suatu hutan yang berada pada tanah hak atau tanah Negara yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai hutan kota. Penetapan hutan kota oleh pemerintah daerah dilakukan dengan perencanaan yang matang dengan mengandalkan tenaga ahli yang professional di bidangnya. Perencanaan hutan kota dilakukan berdasarakan survey kondisi eksisting tutupan lahan dalam suatu wilayah kota. 

PEMILIHAN JENIS POHON DALAM PEMBANGUNAN HUTAN KOTA

Gagan Hangga Wijaya
            Pohon merupakan vegetasi utama penyusun hutan kota. Di dalam hutan kota terdapat unsur vegetasi rumput, tumbuhan bawah, semai, pancang, tiang, dan pohon. Unsur lain dapat berupa liana, epifit, parasit, dan lain-lain. Pohon mendominasi vegetasi di hutan kota karena fungsi utama hutan kota yaitu membentuk iklim mikro di perkotaan. Pohon merupakan tumbuhan utama sebagai penyerap polutan dan pembentuk iklim mikro tersebut. Tanpa adanya pohon, suatu kawasan hijau di perkotaan tidak dapat disebut hutan kota melainkan dapat berperan sebagai ruang terbuka hijau.

Sunday, January 8, 2012

PEMANFAATAN HUTAN KOTA

Gagan Hangga Wijaya
            Pemenuhan kebutuhan ekonomi merupakan topik penting dalam setiap pembangunan di kawasan perkotaan. Berbagai aspek seperti pembangunan jalan, jembatan, pasar, pendidikan, pusat pemerintahan dan lain-lain merupakan usaha untuk meningkatkan akses ekonomi dan perkembangannya. Kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat adalah kota yang memiliki infrastruktur lengkap dan kebijakan pemerintahan yang fleksibel. Wilayah perkotaan merupakan pusat-pusat permukiman yang berperan di dalam suatu wilayah pengembangan dan atau wilayah nasional sebagai simpul jasa atau suatu bentuk ciri kehidupan kota (PP No 63 2002). Kota menjadi pusat perekonomian bagi suatu Negara karena di dalamnya terdapat berbagai transaksi dan administrasinya.

HUTAN KOTA PADA TANAH HAK DAN PERMASALAHANNYA

Gagan H Wijaya 
            Secara alami Indonesia ditumbuhi berbagai jenis pepohonan sejak zaman dahulu. Namun, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin besar tidak dapat dipungkiri lahan yang subur untuk pepohonan pun semakin menyempit. Daerah yang dulunya dikenal dengan desa sekarang sudah berubah menjadi kota kecil dan kota kecil berubah menjadi kota besar. Kawasan yang dulu hijau kini berubah menjadi hunian dan perkantoran. Begitu banyak pepohonan yang hilang sehingga yang tampak hanya kegersangan. Paru-paru kota pun hilang (Kurnia 2011).